Ibu Yang Baik Harus Rela Menjadi Budak Dalam Keluarganya?

Ibu yang Baik Harus Rela Menjadi Budak dalam Keluarganya Ibu yang Baik Harus Rela Menjadi Budak dalam Keluarganya?

Ilustrasi (Depositphotos.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Sejak melahirkan, seorang ibu dituntut bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Bagaimana ia menyusui, mengganti popok, memberi asupan makanan bergizi, pendeknya semua hal terbaik, demi bawah umur tercinta.

Tapi apakah itu menyebabkan sosok ibu semacam budak bagi anak-anaknya?

Sudut pandang kontroversial tersebut disinggung Elisabeth Badinter dalam bukunya, Le Conflit: La Femme Et La Mère (The Conflict, The Woman and The Mother).

Coba saja perhatikan, sebagian besar ibu membawa-bawa rasa bersalah, utamanya sesudah kembali bekerja pascamelahirkan. Kehadiran anak tentu isu membahagiakan, pengalaman yang tak terhingga rasanya.

Sehingga dikala si ibu tak bisa menyusui sebagaimana dianjurkan, rasanya ibarat berbuat dosa. Padahal semenjak hamil, ibu sudah diajari bagaimana cara menyusui dengan benar. Tetap saja memberi ASI bukanlah hal mudah. Kadang malah menyusut sesudah si ibu kembali bekerja 3 bulan kemudian. Itu gres usia anak beberapa bulan.

Ketika membesarkan anak, ingin demi kepraktisan, si ibu terpaksa menentukan makanan padat made in pabrik. Kembali rasa bersalah muncul, jawaban tak bisa memperlihatkan yang terbaik bagi anak.

Elisabeth mengingatkan, perempuan masa sekarang dibesarkan dalam budaya yang cenderung egois, mengutamakan kepentingan diri. Namun begitu menjadi ibu, segalanya luluh, ibu menempatkan anak di atas segala-galanya. Makanya konflik menjadi salah satu kata dalam judul buku Elisabeth.

Keadaan inilah yang membuat perempuan merasa sengsara, bahkan membuat sebagian perempuan tak ingin punya anak, sebagaimana terlihat dari rendahnya tingkat kelahiran di negara-negara Barat.

Elisabeth berpendapat, sampaumur ini perempuan sudah berlebihan dalam merawat bawah umur sehingga menjadi budak bagi anak-anaknya.

"Kita hidup 80-85 tahun. Dan bawah umur menyita 20-25 tahun dari jumlah tadi," kata ibu 3 anak dan nenek sejumlah cucu ini.

"Banyaknya perempuan yang sangat bersalah jikalau tak bisa menyusui anak-anaknya sesuai anjuran, sama saja membuat model ibu yang harus berada di samping anaknya 24 jam setidaknya dalam kurun waktu 6 bulan. Model ini menghabisi bab paling pribadi dari setiap ibu sebagai individu," keluh Elisabeth.

Pantas saja opini Elisabeth banyak diincar para kritikus. Edwige Antier tidak oke dengan pendapat Elisabeth.

"Dia tidak tahu aspirasi perempuan dikala ini. Dia menyangkal motherhood. Bagi neofeminis ibarat saya, terang kalau perempuan ingin punya kepuasan baik dalam karier maupun ketika menjadi ibu," tegas dokter anak ini.

Wanita masa sekarang cenderung kembali ke rumah dan jadi ibu rumah tangga yang baik. Amati saja berapa banyak yang tetapkan menikah muda dan fokus pada anak.

Sebaliknya, para laki-laki sampai sekarang masih duduk nyaman di depan TV menikmati pertandingan sepak bola.

Lalu apa yang bahwasanya terjadi sehingga perempuan mau mendapatkan bentuk perbudakan zaman modern ibarat ini? Elisabeth bilang, krisis ekonomi salah satu alasan.

"Menjadi ibu tampaknya pilihan yang lebih baik ketimbang ketidakpastian di daerah kerja," cetus filsuf berumur 66 tahun ini.

Gerakan hijau dengan nilai-nilai kembali ke alam -- memberi ASI dan makanan bikinan sendiri -- menjadi alasan lain.  "Mungkin aneh, tapi pilihan saya jelas. Susu formula, makanan bayi instan, semuanya terkait dekat dengan kebebasan wanita".

Tampaknya bukan pada tempatnya lagi mengkritisi perempuan yang punya cara masing-masing dalam merawat dan mendidik anak-anaknya. Menjadi ibu pekerjaan paling menuntut yang harus dihadapi wanita.

Kalau melihat orang lain melakukannya berbeda dengan yang kita lakukan, cemooh atau kritik atau apa pun namanya pribadi terlontar. Padahal tak seorang pun bisa menjadi ibu sempurna.

Tapi yang jelas, mereka kebanyakan melaksanakan pekerjaan ini dengan baik, dengan menempatkan semua pada prioritasnya masing-masing. Habiskan waktu untuk hal-hal yang lebih penting, termasuk kencan dengan pasangan atau berolahraga di sentra kebugaran.

Tak ada salahnya kok. Lebih baik anak menghadapi ibu yang senang dengan dirinya ketimbang berhadapan dengan ibu yang tidak senang karena merasa terbebani.

(ati / gur)

Rekomendasi

Let's block ads! (Why?)



from Berita Gosip Terbaru Hari ini, Kabar Artis Terkini - Tabloidbintang.com kurang lengkap baca artikel nya di samping https://ift.tt/2GwZAgQ

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ibu Yang Baik Harus Rela Menjadi Budak Dalam Keluarganya?"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel