Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

TABLOIDBINTANG.COM - Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah, Ternate, sekitar pukul 8.00 WIT. Cuaca yang sangat erat menyambut, menciptakan suasana hati tetap terjaga usai perjalanan udara 3 jam 35 menit dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. 

Tiga minibus yang dikemudikan warga lokal menjemput rombongan kami pagi hari itu. Mobil dipacu dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan utama Kota Ternate yang terlihat rapi dan bersih. Tak terlalu banyak kendaraan kemudian lalang. 

Rumah makan Al-Hikmah, di Jalan Nasution, menjadi tujuan pertama kami. Rumah makan yang didominasi cat putih dan hijau itu menyediakan sajian utama nasi kuning. Nasi kuning bisa dengan gampang dijumpai di kota-kota lain di Indonesia, terutama di Jawa. Tapi, nasi kuning di sini mengatakan sejumlah lauk suplemen yang khas. Salah satunya nasi kuning ikang telur. Gurih nasi kuning disempurnakan dengan lembutnya potongan ikan tongkol dan sebutir telur rebus.

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

Perut sudah terisi. Tanpa membuang waktu lama, rombongan bergegas menuju destinasi wisata Cengkeh Afo, yang berada di kaki gunung Gamalama. Kata “Afo” berasal dari Bahasa Ternate yang berarti “tua”. Di lokasi tersebut, terdapat tiga pohon cengkeh yang diprediksi usianya mencapai 200 dan 416 tahun. Hanya saja, pohon cengkeh yang berusia 416 tahun sudah mati pada awal 2000.

Mesin kendaraan beroda empat meraung. Butuh skill mengemudi di atas rata-rata untuk menaklukkan tanjakan demi tanjakan curam menuju lokasi. Dari jalan beraspal, kami masih harus berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang licin dan menanjak. 

Pemuda orisinil Ternate berjulukan Didit Prahara mendampingi kami dalam perjalanan. Bukan sembarangan pemandu wisata, Didit merupakan tamatan S2 jurusan Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Selain menjabat ketua Ternate Herotage Society (THS), dikala ini ia juga tercatat sebagai dosen tetap di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate. Jangan heran jika ia begitu fasih menjelaskan sejarah, mulai dari proses kedatangan Postugis, hingga latar berdirinya benteng-benteng kokoh di beberapa sudut Kota Ternate. 

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

"Kenapa di pulau yang sangat kecil menyerupai Ternate ada begitu banyak benteng? Tentu ada sesuatu yang sangat berharga yang ingin dilindungi oleh bangsa Portugis, Belanda, maupun Spanyol di pulau ini. Jawabannya ialah rempah, terutama cengkeh" Didit memberi klarifikasi kepada kami. 

Cengkeh memang menjadi menjadi daya tarik utama Portugis dikala pertama kali menemukan rute Maluku pada era ke-15. Cengkeh juga yang kemudian mengundang minat bangsa Eropa lainnya, menyerupai Spanyol dan Belanda, untuk tiba dan saling bersaing untuk menguasai wilayah di jalur rempah.

Fasilitas penunjang, menyerupai tempat istirahat yang nyaman dan toilet yang bersih, menciptakan daerah Cengkeh Afo cukup ramah bagi wisatawan. Termasuk bagi mereka yang gemar berswafoto. Ada banyak sudut menarik yang bisa dijadikan latar foto. Pesan kami, jangan hingga melewatkan nikmatnya teh dan kopi rempah buat warga sekitar. 

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

Bicara soal cengkeh, tentu tak lepas dari sejarah panjang Kota Ternate. Sejarah itu yang coba kami susuri dari bangunan-bangunan peninggalan Postugis maupun Belanda, yang sebagian besar di antaranya masih cukup terawat. Banteng Oranye, salah satunya. 

Benteng Oranye dibangun pada tahun 1607 oleh seorang Laksamana VOC berjulukan Cornelis Matelieff de Jonge untuk menggantikan keberadaan Benteng Malayo milik kesultanan Ternate yang dihancurkan oleh Spanyol. Konon, benteng ini dibangun sebagai bentuk terimakasih Sultan Ternate atas kerjasama Belanda dalam mengusir bangsa Spanyol dari Ternate. Benteng ini merupakan benteng penting yang dimiliki Belanda di awal kekuasaan mereka di Nusantara.

Di beberapa sudut tembok, bisa dilihat beberapa meriam orisinil yang digunakan Belanda untuk menghalau musuh, khususnya Spanyol dan Portugis. Di lantai bawah, masih tampak gugusan ruangan yang dulu difungsikan sebagai penjara dan kantor satuan pengamanan VOC. Salah satu bangunan yang tampak masih layak pakai ialah bekas kantor Gubernur Hindia Belanda di bab dalam tembok benteng dan sekarang beralih fungsi sebagai kantor Dinas Pariwisata sekaligus Museum Rempah Ternate.

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

Rasanya tak cukup waktu seharian penuh untuk menyusuri Pulau Ternate, yang luasnya hanya sekitar 111,4 kilometer persegi. Setiap sudut kota mengandung dongeng masa lampau perihal masa keemasan industri rempah Nusantara hingga banyak sekali tragedi pilu yang ada di dalamnya. 

Memperkuat Visi Kemaritiman Indonesia Lewat SRCI

Spice Route Connexion Indonesia (SRCI) ialah sebuah rangkaian acara yang dirancang untuk memperkuat visi kemaritiman Indonesia. Program ini merupakan inisiatif bersama antara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman didukung Yayasan Negeri Rempah.

Bertajuk Jejaring Kemaritiman Jalur Rempah Menuju Warisan Dunia, SRCI jadi sarana untuk memperkenalkan kembali peranan penting Indonesia dalam perkembangan peradaban dunia melalui Jalur Rempah, baik melalui praktik perdagangan maupun penyebaran pengetahuan dan kebudayaan, dalam skala global.

Menilik sejarah, Nusantara mempunyai posisi strategis sebagai poros yang menghubungkan 'negerinegeri di atas angin', yaitu Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa. Jauh sebelum bangsa Eropa melaksanakan kegiatan perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah menjadi pemain penting dalam perdagangan dunia dan telah usang dikenal sebagai negara pemasok utama komoditas penting di dunia: rempah-rempah.

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

Diperkirakan, dalam perjalanan waktu dan pada skala dunia, 400-500 spesies flora telah dipergunakan dan dikenal sebagai rempah. Di Asia Tenggara sendiri, jumlahnya mendekati 275 spesies (Prosea, 1999).

“Jadi, bayangkan saja. Ketika Eropa belum mempunyai banyak pengetahuan perihal banyak sekali komoditas, rempah-rempah dari dunia Timur telah menyediakan khasiat, cita rasa dan aroma yang  dipergunakan sebagai bumbu masak, penawar racun dan obat, bahkan hingga materi pengawet,” terperinci Bram Kushardjanto dari Yayasan Negeri Rempah.

Dengan tugas sepenting itu, rempah-rempah menjadi komoditas utama yang bisa mempengaruhi kondisi politik, ekonomi maupun sosial budaya dalam skala global. Para raja mengirim ekspedisi mengarungi samudera untuk mencarinya; pedagang mempertaruhkan nyawa dan kekayaannya; perang demi perang memperebutkannya; dunia bergolak dan sejarah peradaban insan berubah.

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

Poros perdagangan rempah-rempah global Asia, India–Nusantara–Tiongkok, melalui perairan Hindia hingga Pasifik meninggalkan jejak peradaban yang signifikan. Terletak di sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, Nusantara dari masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun.

Sebagai akhir dari kemudian lintas maritim yang padat ke Asia Timur, Timur Tengah, Eropa dan sebaliknya, banyak peradaban berinteraksi; bertukar pengetahuan, pengalaman, dan budaya. Ia bermetamorfosis sebagai ruang silaturahmi antar insan lintas bangsa sekaligus sarana pertukaran dan pemahaman antar budaya yang mempertemukan banyak sekali ide, konsep, gagasan dan praksis, melampaui konteks ruang dan waktu – dipertemukan oleh maritim dan samudera.

Warisan budaya maritim dalam jejak perniagaan global ini menjadi semakin penting untuk diangkat, dikaji dan dimaknai kembali.

“Apalagi ketika sampaumur ini banyak bergulir pertarungan konsep menyerupai Jalur Sutera Maritim yang diusung Tiongkok, maupun ragam konsep perihal wawasan Indo-Pasifik yang kesemuanya menuntut Indonesia untuk mengambil peranan yang penting,” terperinci Hassan Wirajuda, Menteri Luar Negeri RI periode 2001 -2009 yang dikala ini juga duduk sebagai ketua dewan pembina Yayasan Negeri Rempah.

“Dalam konteks yang lebih strategis, acara Spice Route Connexion ini mempersiapkan pengajuan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia (World Heritage) ke UNESCO,” ujar Tukul Rameyo Adi, Staf Ahli Menteri Sosio-Antropologi dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

Peran aktif masyarakat dirasa penting untuk sanggup memperkuat upaya membawa Jalur Rempah sebagai warisan dunia. Salah satunya ialah tumbuhnya kesadaran untuk mengenal sejarah dan budaya negeri sendiri yang sangat bhinneka, sebagai warisan dari jejaring antarbudaya yang terjadi akhir jalur rempah dari masa ke masa. Untuk itu, serangkaian acara dirancang untuk sanggup menginspirasi masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam memberdayakan potensi jalur rempah, baik untuk mempromosikannya sebagai warisan budaya dunia maupun turut memberdayakan komoditas rempah sebagai kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Rangkaian acara SRCI terdiri dari diskusi publik, pemberdayaan komunitas hingga pengembangan wisata berkelanjutan ke Belitung (29 Juni - 1 Juli), Ternate-Tidore, Maluku Utara (17-19 Juli), Bulukumba, Sulawesi Selatan (September) dan Baubau, Sulawesi Tenggara (November). 

Hingga tamat 2019 ini, SRCI akan menjadi lembaga pertukaran pengetahuan dan pemahaman antarbudaya sehingga masyarakat luas sanggup turut merayakan kesamaan maupun perbedaan budaya melalui program-program yang memungkinkan partisipasi publik. Mulai dari diskusi ilmiah, bedah buku, talkshow mengenai rempah-rempah, hingga berwisata ke “Negeri Rempah”.

Perhelatan ini pun melibatkan relawan dari banyak sekali komunitas dengan latar belakang beragam. Mulai dari peranserta media, akademisi, peneliti, mahasiswa, eksekutif, hingga para ibu dan keluarganya. Semangat untuk saling membuatkan yang tumbuh dari komunitas dan para relawan ini digawangi oleh Yayasan Negeri Rempah yang mempunyai perhatian khusus pada pembelajaran publik semoga lebih mengenal keberagaman Indonesia. 

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Sultan Baabullah Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara 

(ari)

Let's block ads! (Why?)



from Berita Gosip Terbaru Hari ini, Kabar Artis Terkini - Tabloidbintang.com kurang lengkap baca artikel nya di samping https://ift.tt/2JTDLc0

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Noslatgia Sejarah Ternate, Pintu Gerbang Jalur Rempah Nusantara "

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel